PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Transformasi pendidikan Islam di Kota Pangkalpinang memasuki babak baru dengan penguatan aspek emosional dalam proses belajar mengajar. Pengawas Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang, Suarni, secara resmi mendorong implementasi “Kurikulum Berbasis Cinta” di Pondok Pesantren (Ponpes) Modern ‘Azamtu sebagai upaya mewujudkan institusi pendidikan yang lebih humanis dan beradab.
Langkah inovatif ini disosialisasikan dalam pertemuan strategis bersama jajaran pendidik madrasah di lingkungan pesantren pada Kamis (19/2/2026). Dalam pandangan Suarni, kurikulum ini bukan sekadar pelengkap administratif, melainkan sebuah reorientasi filosofis dalam memandang santri sebagai subjek yang utuh.
Suarni menegaskan bahwa tantangan pendidikan di era modern tidak lagi terbatas pada aspek kognitif atau kemampuan hafalan (tahfidz), melainkan pada bagaimana membangun koneksi batin antara pendidik dan peserta didik. Beliau berpendapat bahwa jika pengajar hanya mengejar target kurikulum teknis, maka ruh pendidikan Islam akan hilang.
“Kurikulum Berbasis Cinta mengedepankan pendekatan kasih sayang sebagai fondasi utama. Ketika santri merasa dicintai dan dihargai, maka resistensi mental akan hilang, sehingga penyerapan ilmu terjadi secara natural dan mendalam,” ujar Suarni di hadapan para ustadz dan ustadzah.
Pendekatan ini diyakini menjadi kunci utama dalam mencegah terjadinya kekerasan di lingkungan pendidikan serta memastikan madrasah menjadi ekosistem yang aman dan dirindukan oleh santri.
Menanggapi arahan tersebut, Ketua Yayasan Ponpes Modern ‘Azamtu, Ust. Sholahuddin menyampaikan bahwa penerapan kurikulum ini merupakan komitmen konkret yayasan untuk menciptakan lingkungan belajar yang penuh keberkahan. Ia menekankan bahwa karakter santri yang kokoh hanya bisa lahir dari keteladanan nyata para pengajar yang bersumber dari ketulusan hati.
Sejalan dengan visi yayasan, Kepala Madrasah Aliyah (MA) ‘Azamtu, Ustazah Bunga Mariatul Qibtiyah, menyatakan kesiapan penuh seluruh tenaga pendidiknya untuk mengintegrasikan nilai-nilai kasih sayang ke dalam setiap mata pelajaran, baik agama maupun umum. Pihak madrasah akan memastikan bahwa guru tidak lagi sekadar menjadi pengajar, tetapi juga mentor dan orang tua kedua melalui interaksi positif yang terjaga. Selain itu, evaluasi berkala akan terus dilakukan guna menjamin semangat membimbing dengan hati tetap terimplementasi secara konsisten di ruang kelas.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan diskusi interaktif mengenai teknik komunikasi persuasif antara guru dan santri. Pengawas Madrasah berharap model yang diterapkan di Ponpes Modern ‘Azamtu ini dapat menjadi percontohan (pilot project) bagi madrasah lain di bawah naungan Kemenag Pangkalpinang.
Dengan integrasi Kurikulum Berbasis Cinta, Ponpes Modern ‘Azamtu optimis mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual dan fasih secara lisan, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta akhlakul karimah yang tinggi dalam menjawab tantangan zaman. (Imelda)












