PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Nuansa khidmat dan penuh rasa syukur menyelimuti Vihara Kumala Bodhi, Pangkalpinang, pada Sabtu (20/6/2026) sore. Ratusan umat Buddha berkumpul bersama para tokoh lintas sektoral dan pemuka agama dalam acara peresmian tiga fasilitas keagamaan vital sekaligus, yakni Gedung Sekolah Minggu Buddha, Kuti Sangha, dan Rumah Abu. Acara ini menjadi tonggak sejarah baru bagi penguatan spiritualitas dan pendidikan keagamaan Buddha di Kota Pangkalpinang.
Dalam kesempatan tersebut, Penyelenggara Buddha Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang, Misno, hadir untuk menyampaikan sambutan resmi. Kehadiran Misno bertindak sebagai representasi penuh dari Plt. Kakanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pembimas Buddha Kanwil Kemenag Babel, serta Kepala Kantor Kemenag Kota Pangkalpinang yang sedang menunaikan tugas kedinasan mendesak lainnya.
Peresmian ini juga dihadiri oleh sederet tokoh penting, di antaranya Yang Mulia Bhikkhu Sangha, Pembina Yayasan Vihara Kumala Bodhi Suhu Nyana Wibowo, Ketua Komisi XII DPR RI Dr. Bambang Patijaya, S.E., M.M., Kapolres Kota Pangkalpinang, serta jajaran pengurus daerah Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) dan Wanita Buddhayana Indonesia (WBI) tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.
Mengawali sambutannya, Misno menyampaikan salam kehangatan dan rasa bangga dari pimpinan Kementerian Agama atas pencapaian luar biasa umat Buddha di Pangkalpinang. Pihaknya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran panitia pembangunan, para donatur, dan segenap umat yang telah bersinergi dengan penuh keyakinan.
Menurut Kemenag, berdirinya ketiga fasilitas ini merupakan buah manis dari semangat gotong-royong yang kokoh. Bangunan-bangunan ini dinilai tidak hanya memiliki nilai estetika arsitektur keagamaan, melainkan memikul fungsi strategis yang menyentuh tiga aspek penting kehidupan umat: pendidikan, spiritualitas, dan penghormatan leluhur.
Dalam memaparkan urgensi masing-masing bangunan, Misno menjelaskan bahwa Gedung Sekolah Minggu Buddha yang baru diresmikan merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa. Tempat ini dirancang sebagai kawah candradimuka bagi anak-anak dan generasi muda Buddha untuk mendalami ajaran Dharma sejak dini.
Melalui pendidikan karakter di sekolah minggu, diharapkan akan lahir generasi emas yang berakhlak mulia, toleran, cerdas, dan bijaksana dalam menyikapi perkembangan zaman.
Selanjutnya, keberadaan Kuti Sangha diproyeksikan sebagai tempat tinggal yang layak, tenang, dan kondusif bagi para Bhikkhu Sangha. Fasilitas yang memadai ini sangat krusial agar para Bhikkhu dapat menjalankan praktik Buddha Dharma dengan optimal, yang pada gilirannya akan menjaga kontinuitas bimbingan spiritual berkualitas bagi umat di Pangkalpinang.
Sementara itu, Rumah Abu yang turut diresmikan sore itu dimaknai sebagai simbol pengingat akan nilai bakti yang luhur. Bangunan ini menjadi wadah suci bagi umat untuk memberikan penghormatan terakhir serta mendoakan para leluhur dan anggota keluarga yang telah mendahului, sebagai bentuk pelestarian tradisi spiritual yang mengakar kuat.
Lebih dari sekadar kemegahan fisik, Kementerian Agama menitipkan pesan mendalam agar umat Buddha tidak terjebak pada simbolisasi bangunan semata. Misno mengajak seluruh umat untuk aktif merawat, menghidupkan, dan memaksimalkan fungsi operasional ketiga fasilitas tersebut.
“Kami mengajak seluruh umat Buddha untuk tidak sekadar melihat tempat ini sebagai bangunan fisik. Jadikanlah kompleks ini sebagai pusat kebajikan, laboratorium moderasi beragama, dan tempat memancarkan cinta kasih yang universal kepada sesama makhluk hidup,” ujar Misno.
Ia juga menambahkan bahwa kerukunan yang telah terjalin erat di Bangka Belitung harus terus dijaga. Umat Buddha diharapkan terus berjalan beriringan dengan pemerintah dan pemeluk agama lain demi mewujudkan keharmonisan masyarakat serta menjaga persatuan bangsa. (Gema)









