PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati (atau mungkin justru mengocok perut) melihat bagaimana birokrasi bekerja di Kota Pangkalpinang. Pada Jumat (28/5), sebuah agenda besar bertajuk “Gerakan Bersih-Bersih” digelar di kawasan Bukit Intan, mulai dari SMP Negeri 10 hingga jalur menuju Pantai Pasir Padi.
Meski judulnya terdengar kolosal, pantauan awak media di lapangan menunjukkan realita yang agak ‘minimalis’. Pembersihan nyatanya hanya terjadi dalam radius ratusan meter saja, tepatnya dari depan gerbang SMP 10 hingga Simpang Tiga perumahan di Kelurahan Tamberan. Mungkin definisinya adalah “bersih-bersih simbolis” agar tidak terlalu lelah bekerja.
Bintang utama dalam pertunjukan ini, tentu saja, Walikota Pangkalpinang, Profesor Saparudin. Datang dengan rombongan OPD dan staf yang tampak sibuk (entah sibuk apa), sang Walikota justru menampilkan gestur yang sangat ikonik.
Bukannya memegang sapu atau serok sampah, beliau justru tampak asyik berdiam diri dengan kedua tangan menyilang di belakang punggung. Sebuah pose yang lebih mirip orang sedang menggendong “tuyul” daripada seorang pemimpin yang sedang mempelopori aksi kebersihan. Tampaknya, status Profesor memang membuat beliau cukup bekerja dengan pikiran saja, tanpa perlu mengotori tangan dengan sampah nyata.
Aksi bersih-bersih ini sejatinya adalah bagian dari visi dan misi besar Sang Walikota. Namun, begitu kamera humas atau awak media tidak menyorot, suasana berubah menjadi ajang reuni santai. Di pintu gerbang SMP Negeri 10, Profesor Saparudin lebih banyak menghabiskan waktu bersenda gurau dengan para pejabat OPD dan masyarakat sekitar.
Nihilnya peralatan kerja di tangan beliau seolah menegaskan bahwa kehadiran fisik sudah lebih dari cukup untuk memenuhi janji kampanye. Siapa butuh sapu jika Anda punya rombongan yang bisa melakukan pekerjaan kotor itu untuk Anda?
Hingga berita ini diturunkan, sampah-sampah di titik lain mungkin masih menunggu giliran untuk dibersihkan, atau mungkin mereka juga sedang menunggu Walikota datang dengan pose “tangan di belakang” berikutnya agar sampah-sampah tersebut merasa terhormat sebelum diangkut. (4WD)









