PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang, Kartika Sari, dan Suryati turut dilibatkan sebagai stakeholder dalam penyusunan kurikulum Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) dan Magister Manajemen Pendidikan Islam (MMPI) Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik (SAS) Bangka Belitung.
Kegiatan yang mengusung pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan stakeholder dan transformasi digital tersebut dilaksanakan selama dua hari, 19–20 Agustus 2026. Kegiatan menghadirkan Prof. Dr. Amilda, M.A., akademisi senior sekaligus Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, sebagai narasumber.
Pelibatan stakeholder menjadi bagian penting dalam penyusunan kurikulum agar kompetensi lulusan yang dirumuskan tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan dunia pendidikan yang terus berubah.
Dalam kegiatan tersebut, Kartika Sari tidak hanya memperoleh pengalaman dan pemahaman mengenai proses penyusunan kurikulum di perguruan tinggi, tetapi juga memberikan masukan berdasarkan pengalaman dan kebutuhan yang ditemuinya di lapangan sebagai Pengawas PAI.
Menurut Kartika, kurikulum program magister perlu mampu mengakomodasi kebutuhan mahasiswa yang nantinya akan berkiprah sebagai pendidik, kepala sekolah atau madrasah, pengawas, pengelola lembaga pendidikan, maupun tenaga kependidikan. Karena itu, kompetensi yang dibangun melalui kurikulum perlu menyentuh tidak hanya aspek akademik dan profesional, tetapi juga kemampuan menghadapi berbagai dinamika dalam pengelolaan pendidikan.
Salah satu masukan yang disampaikan Kartika adalah agar Manajemen Stres dan Konflik dipertimbangkan sebagai salah satu mata kuliah yang mendukung pencapaian Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), khususnya kompetensi yang berkaitan dengan kemampuan manajerial, interpersonal, dan penyelesaian konflik dalam pengelolaan pendidikan.
“Manajemen stres dan konflik penting untuk dipertimbangkan karena persoalan yang dihadapi guru, kepala sekolah, maupun tenaga kependidikan di lapangan bukan hanya berkaitan dengan kompetensi akademik dan teknis. Mereka juga menghadapi tekanan pekerjaan, dinamika organisasi, perbedaan karakter, komunikasi, serta berbagai konflik yang membutuhkan kemampuan pengelolaan secara tepat dan profesional,” ujar Kartika.
Menurutnya, kemampuan mengelola stres dan konflik merupakan kompetensi yang semakin dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Pendidik maupun pemimpin satuan pendidikan tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan teknis, tetapi juga membutuhkan kecakapan interpersonal dan manajerial untuk menciptakan lingkungan kerja dan pembelajaran yang sehat, produktif, dan kondusif.
Kartika juga mengapresiasi Pascasarjana IAIN SAS Bangka Belitung yang telah memberikan ruang kepada stakeholder untuk terlibat secara langsung dalam proses penyusunan kurikulum. Ia turut mengapresiasi Prof. Dr. Amilda, M.A., yang dinilainya mampu memberikan pemahaman secara sistematis dan mendalam mengenai konsep serta tahapan pengembangan kurikulum di perguruan tinggi.
“Bagi saya, kegiatan ini memberikan pengalaman dan pembelajaran baru. Kita tidak hanya memahami bagaimana menyusun kurikulum di perguruan tinggi, tetapi juga dapat melihat keterkaitannya dengan pengembangan kurikulum pada satuan pendidikan,” ungkapnya.
Kartika melihat adanya kesamaan prinsip dalam perumusan kompetensi lulusan antara pengembangan kurikulum di perguruan tinggi dan pada satuan pendidikan, meskipun keduanya memiliki istilah, struktur, karakteristik, dan regulasi yang berbeda. Pada perguruan tinggi dikenal Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), sedangkan pada satuan pendidikan terdapat Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta rumusan profil atau dimensi profil lulusan sesuai dengan kebijakan kurikulum yang berlaku.
Kesamaan prinsip tersebut terlihat dari pentingnya merumuskan kompetensi lulusan secara jelas dan terukur, kemudian menyelaraskannya dengan proses pembelajaran dan asesmen. Demikian pula penggunaan Taksonomi Bloom dan Kata Kerja Operasional (KKO) menjadi bagian penting dalam membantu merumuskan kompetensi dan tujuan pembelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan yang diharapkan.
Menurut Kartika, pemahaman terhadap proses tersebut dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi pengembangan kurikulum pada satuan pendidikan dan madrasah, dengan tetap menyesuaikan istilah, regulasi, serta karakteristik masing-masing jenjang pendidikan.
“Walaupun memiliki karakteristik dan regulasi yang berbeda, terdapat prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dapat dipelajari dan diadaptasi. Ini menjadi pengalaman yang sangat baik bagi saya sebagai pengawas karena dapat memperkaya perspektif dalam mendampingi guru dan satuan pendidikan,” jelasnya.
Selain membahas prinsip dan tahapan pengembangan kurikulum, kegiatan tersebut juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya menyiapkan kurikulum yang responsif terhadap transformasi digital. Perubahan teknologi menuntut lembaga pendidikan tidak hanya memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, tetapi juga menyiapkan lulusan yang adaptif, kritis, kolaboratif, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan produktif.
Bagi Kartika, keterlibatannya dalam kegiatan penyusunan kurikulum tersebut menjadi pengalaman yang dapat memperkuat pelaksanaan tugas kepengawasan, khususnya dalam memberikan pendampingan kepada guru PAI dan satuan pendidikan binaan.
Ia berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, Kementerian Agama, pengawas, guru, dan stakeholder pendidikan dapat terus dikembangkan. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak dalam penyusunan kurikulum akan membantu menghasilkan kurikulum yang lebih relevan, kontekstual, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan pendidikan serta tantangan zaman.
“Penyusunan kurikulum akan menjadi lebih bermakna ketika melibatkan pihak-pihak yang memahami kebutuhan di lapangan. Perguruan tinggi memiliki kekuatan akademik, sementara stakeholder memberikan perspektif kebutuhan nyata. Ketika keduanya dipertemukan, kurikulum yang dihasilkan diharapkan semakin relevan dan mampu menjawab tantangan pendidikan ke depan,” pungkas Kartika. (Imelda)









