PANGKALPINANG,BERITA-FAKTA.COM — Di tengah kesibukan birokrasi dan tuntutan pelayanan publik yang dinamis, keteladanan kerap lahir dari aksi-aksi sunyi yang menyentuh kemanusiaan. Penyelenggara Buddha Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang, Misno, membuktikan bahwa kepedulian sosial tidak terhalang oleh padatnya agenda kerja instansi.
Rabu (4/11), usai merampungkan kewajiban administratif negara berupa pembayaran pajak kendaraan dinas bermotor roda dua, Misno meluangkan waktu khusus mendatangi Markas Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pangkalpinang. Kedatangannya bukan sekadar kunjungan kerja, melainkan panggilan nurani untuk mendaftarkan diri sebagai sukarelawan sekaligus mendonorkan darahnya demi sesama.
Langkah proaktif ini bermula dari komitmen moral untuk menyeimbangkan antara tanggung jawab administratif kedinasan dan kepedulian terhadap krisis kemanusiaan. Usai mengurus kewajiban fiskal kendaraan operasional di kantor pelayanan terkait, alih-alih langsung kembali ke meja kerjanya di Kantor Kemenag Kota Pangkalpinang, ia memilih melangkahkan kaki menuju gedung PMI setempat. Keputusan spontan namun terarah ini mencerminkan integritas seorang aparatur sipil negara (ASN) yang tidak hanya patuh pada regulasi negara, tetapi juga peka terhadap denyut nadi kebutuhan masyarakat.
“Sebagai bagian dari masyarakat dan abdi negara, kepatuhan terhadap aturan seperti membayar pajak adalah sebuah keharusan. Namun, di sisi lain, ada panggilan kemanusiaan yang mendesak, yakni ketersediaan stok darah yang kerap menjadi penentu antara hidup dan mati pasien di rumah sakit. Ketika kesempatan itu ada, sudah sepatutnya kita hadir,” ujar Misno di sela-sela proses pemeriksaan kesehatan awal (screening) sebelum mendonorkan darahnya.
Aksi nyata tersebut mendapat apresiasi positif dari petugas medis dan jajaran pengurus PMI Kota Pangkalpinang. Di tengah fluktuasi stok darah yang sering kali menipis akibat tingginya permintaan medis, kehadiran para pendonor sukarela—terlebih dari kalangan pejabat publik dan ASN—memberikan angin segar sekaligus menjadi motor penggerak kesadaran kolektif di tengah masyarakat.
Langkah kecil yang diambil oleh Penyelenggara Buddha Kemenag Pangkalpinang ini diharapkan mampu memantik inspirasi luas. Bahwa pelayanan publik yang prima tidak hanya diukur dari seberapa cepat berkas terselesaikan di atas meja, melainkan juga dari seberapa besar empati yang dihadirkan untuk meringankan beban sesama manusia, melampaui batas sekat administratif dan formalitas kedinasan. (Imelda)









