PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Gema shalawat nabi membuncah di Masjid Ar-Rohim, Pangkalpinang, pada Sabtu (31/1/2026). Ratusan jamaah yang didominasi kaum ibu tampak khusyuk mengikuti rangkaian peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H. Namun, momentum kali ini terasa jauh lebih emosional dan bermakna; Majelis Ta’lim Ar-Rohim resmi menapaki usia satu dekade dalam mensyiarkan dakwah Islam di Bumi Serumpun Sebalai.
Di bawah nahkoda Ustazah Sutiani, yang juga dikenal sebagai Penyuluh Agama Islam fungsional pada KUA Pangkalbalam, perayaan sepuluh tahun ini mengusung tajuk filosofis: “Peduli Umat untuk Menggapai Ridho Allah”. Sebuah tema yang tidak sekadar menjadi hiasan spanduk, melainkan manifestasi dari pergerakan majelis selama sepuluh tahun terakhir. Dalam kegiatan tersebut hadir pula Trisnawati Arnia Ningsih dan Mulyani, Penyuluh Agama Islam KUA Taman Sari.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi Khatam Al-Qur’an masal oleh para anggota majelis. Kegiatan ini menjadi simbol rasa syukur atas istiqomahnya para jamaah dalam menekuni kalam ilahi selama sepuluh tahun berdirinya wadah pendidikan agama tersebut.
Tak berhenti pada ritualitas ibadah mahdhah, Majelis Ta’lim Ar-Rohim menunjukkan taringnya dalam aspek kesalehan sosial. Di tengah acara, dilakukan penyerahan santunan kepada puluhan anak yatim dan piatu.
“Kami ingin memperingati perjalanan Rasulullah bukan hanya dengan narasi, tapi dengan aksi. Menyayangi anak yatim adalah cara paling konkret untuk menunjukkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW,” ujar Ustazah Sutiani dalam sambutannya yang penuh haru.
Puncak acara diisi dengan tausiyah mendalam dari Ustazah Suarni, Pengawas Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang. Dengan gaya penyampaian yang bernas, beliau membawa jamaah “bertamasya spiritual” menyusuri jejak perjalanan agung dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, hingga menembus batas langit ketujuh.
Ustazah Suarni membedah bagaimana Rasulullah SAW diperlihatkan gambaran surga sebagai ganjaran bagi mereka yang bertaqwa, serta kengerian neraka sebagai pengingat bagi manusia. Inti dari perjalanan tersebut, menurutnya, adalah penjemputan mandat shalat lima waktu yang menjadi tiang agama bagi umat Islam.
Dalam ceramahnya, Ustazah Suarni menekankan empat filosofi Isra Mi’raj yang relevan bagi kehidupan modern:
1. Melampaui Logika Keimanan: Peristiwa Isra Mi’raj adalah ujian bagi akal. Mengajarkan bahwa ketaatan seorang hamba harus didasarkan pada keyakinan mutlak terhadap kuasa Allah, meskipun di luar nalar manusia.
2. Shalat sebagai Mi’rajul Mukmin: Jika Nabi naik ke Sidratul Muntaha, maka shalat adalah sarana bagi setiap mukmin untuk “naik” dan berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta guna merengkuh ketenangan batin.
3. Sinergi Spiritual-Sosial: Kedekatan seorang hamba dengan Allah (Habluminallah) barulah sempurna jika diiringi dengan kepedulian terhadap sesama (Habluminannas).
4. Optimisme di Balik Kesulitan (Amul Huzni): Mengingat sejarah Isra Mi’raj sebagai “hiburan” Allah saat Nabi kehilangan Siti Khadijah dan Abu Thalib, peristiwa ini memberi pesan kuat bahwa setelah kesedihan yang mendalam, Allah selalu menyiapkan kemuliaan bagi mereka yang bersabar.
Menutup dasawarsa pertamanya, Majelis Ta’lim Ar-Rohim bertekad untuk bertransformasi menjadi institusi yang lebih berdampak. Ustazah Sutiani berharap majelis ini tidak hanya menjadi tempat berkumpul untuk menggali ilmu, tetapi juga menjadi pelopor gerakan sosial di Pangkalpinang.
“Harapan kami di usia ke-10 ini, iman jamaah semakin kokoh, lisan terus basah dengan shalawat, dan tangan kita semakin ringan untuk membantu sesama. Kami ingin menjadi bagian dari solusi atas problematika umat,” pungkasnya.
Acara diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, memohon keberkahan bagi para donatur, pengurus, serta seluruh warga yang telah menyokong eksistensi majelis hingga mencapai tonggak sejarah satu dekade ini. (Imelda)












