PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rina Tarol, melayangkan kritik keras terkait proyek pembangunan jalan nasional di Kabupaten Bangka Selatan. Proyek yang menelan dana fantastis hingga Rp 50 miliar tersebut dipertanyakan lantaran kondisinya saat ini sudah mengalami kerusakan parah di beberapa titik.
Hal ini ditegaskan Rina Tarol saat ditemui awak media di Gedung Kantor DPRD Bangka Belitung pada Kamis (18/6). Ia menyoroti penggunaan teknologi mortar busa (foam mortar) yang digadang-gadang sebagai solusi mutakhir, namun nyatanya gagal memberikan hasil yang bertahan lama.
Menurut Rina, berdasarkan pantauan di lapangan, terdapat kerusakan dan retakan menganga sepanjang kurang lebih 500 meter pada ruas jalan tersebut. Ia sangat menyayangkan besarnya anggaran negara yang dialokasikan untuk teknologi tersebut jika pada akhirnya jalan tetap kupak-kapik.
“Alangkah sayangnya uang Rp 50 miliar dihabiskan untuk teknologi yang katanya bagus menggunakan mortar busa, tapi nyatanya jalannya masih rusak dan retak-retak,” ujar Rina dengan nada kecewa.
Rina juga mengalkulasikan biaya pengerjaan yang dinilainya tidak masuk akal jika disandingkan dengan kualitas hasil akhir di lapangan.
“Alangkah ruginya kita jika hitungannya per meter saja harganya bisa sampai puluhan juta rupiah, dengan total anggaran mencapai Rp 50 miliar. Uang itu seharusnya menjadi hak milik rakyat untuk mendapatkan fasilitas jalan yang layak dan mantap,” tambahnya.
Berdasarkan bukti dokumentasi visual, kerusakan pada ruas jalan Serdang di Bangka Selatan ini tergolong ekstrem. Retakan membujur (longitudinal cracking) yang cukup dalam tepat berada di tengah badan jalan, sejajar dengan marka kuning. Beberapa bagian aspal tampak amblas hingga membentuk lubang yang dapat mengecoh pengendara.
Kondisi ini dinilai sangat membahayakan, khususnya bagi pengendara roda dua yang melintas pada malam hari atau saat hujan deras. Rina menegaskan bahwa hak masyarakat untuk menikmati infrastruktur yang aman telah terenggut akibat kegagalan proyek ini.
Kerusakan diperkirakan cepat meluas akibat pengikisan air pada celah retakan. Posisi retakan di tengah jalur sangat rawan menyebabkan kecelakaan fatal (human cost).
Menyikapi kegagalan fungsi teknologi mortar busa pada proyek ini, Rina Tarol meminta pihak terkait khususnya Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Bangka Belitung untuk segera turun ke lapangan melakukan audit dan mengecek ulang perencanaan proyek tersebut.
“Jika memang teknologi mortar busa ini tidak cocok atau tidak bisa digunakan di karakteristik lahan tersebut, kenapa dipaksakan dari awal? Jangan sampai rakyat yang dikorbankan,” tegas legislator vokal ini.
Di akhir penyataannya, Rina mendesak agar penyelesaian dan perbaikan total pada ruas jalan Serdang atau Bali Bangka Selatan tersebut segera dieksekusi sebelum memakan korban jiwa. Pihak kontraktor dan pengawas proyek diminta bertanggung jawab penuh atas realisasi anggaran Rp 50 miliar yang dinilai tidak berbanding lurus dengan kualitas fisik di lapangan. (4WD)









