Peringati Hari Santri Nasional 2026, PCNU Pangkalpinang Gelar Istighosah Qubro hingga Santunan Kaum Dhuafa

oleh -135 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pangkalpinang menggelar rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2026 yang diisi dengan kegiatan Istighosah Qubro, Tausiyah Kebangsaan, serta Santunan Kaum Dhuafa. Acara tersebut berlangsung khidmat di Pondok Pesantren Assalafiyah Nurul Hidayah, Kecamatan Girimaya, Kota Pangkalpinang, pada Sabtu (24/10/2026).

 

banner 336x280

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin. Turut hadir perwakilan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yakni Sekretaris Tanfidziah, H. Darwis Netta, serta jajaran pengurus PCNU Kota Pangkalpinang meliputi Rois Syuriah K.H. Tumiran Ganefo, Ketua Tanfidziah K.H. Firmantasi, dan Sekretaris Tanfidziah A. Sukri Ahkap. Ratusan warga Nahdliyyin Kota Pangkalpinang juga tampak memadati lokasi acara.

 

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan mahalul qiyam dan istighosah qubro yang dipimpin oleh Ustadz Andi Usman, kemudian dilanjutkan dengan sesi sambutan dari para tokoh dan jajaran pimpinan NU.

 

Dalam sambutannya, Sekretaris Tanfidziah PWNU Babel, H. Darwis Netta, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas keaktifan kepengurusan PCNU Kota Pangkalpinang yang bergerak dinamis hingga ke tingkat kecamatan dan ranting.

 

“Semoga kegiatan ini menguatkan batin kita dalam perayaan Hari Santri Nasional tahun ini. Ini tidak hanya sekadar upacara, tetapi ada semangat yang dimunculkan untuk mewarisi keberanian para kyai dan pejuang dalam menghadapi penjajah,” ujar Darwis.

 

Ia menegaskan, semangat perjuangan saat ini bukan lagi melawan penjajah fisik, melainkan berjuang keluar dari himpitan persoalan ekonomi dan sosial. Kehadiran Wali Kota Pangkalpinang juga dinilainya sebagai bentuk sinergi penting untuk menjaga stabilitas daerah.

 

Sementara itu, Rois Syuriah PCNU Kota Pangkalpinang, K.H. Tumiran Ganefo, merefleksikan kembali peristiwa penting Resolusi Jihad 1945 yang dikomandoi Pendiri NU K.H. Hasyim Asy’ari dan diterjemahkan oleh K.H. Wahab Chasbullah.

 

“Saat ini NICA sudah tidak ada lagi, tetapi bisa kita terjemahkan menjadi NICA: Nasionalisme, Ideologi, Komitmen Kebangsaan, dan Akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja). Tidak usah khawatir dengan warga Nahdliyyin karena nasionalismenya sudah teruji. Mari kita kokohkan Aswaja sebagai akidah kita,” tegas K.H. Tumiran Ganefo.

 

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tanfidziah PCNU Kota Pangkalpinang, K.H. Firmantasi, menjelaskan alasan pemilihan Pondok Pesantren Assalafiyah Nurul Hidayah sebagai pusat kegiatan puncak HSN 2026. Menurutnya, hal ini bertujuan mendorong minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke pesantren.

 

“Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Bahkan di Kementerian Agama sudah ada Direktorat Jenderal Pesantren. Hal ini menunjukkan pesantren kini sudah sejajar dengan lembaga pendidikan lainnya dalam menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat,” jelas K.H. Firmantasi seraya mengingatkan pentingnya penguatan sistem serta sarana-prasarana pesantren sesuai tema HSN tahun ini, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.

 

Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin, menyambut baik pesatnya perkembangan lembaga pendidikan Islam di wilayahnya yang kini telah mencapai sekitar 20 pondok pesantren. Ia menekankan pentingnya peran ulama dan santri, tidak hanya dalam sejarah merebut kemerdekaan, tetapi juga dalam mengisi pembangunan masa depan.

 

“Tantangan santri hari ini bukan lagi melawan penjajah, melainkan menghadapi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai umat Islam, santri harus mampu memfilter kemajuan teknologi modern agar tetap sejalan dengan ajaran Islam,” tutur Prof. Saparudin.

 

Ia juga berpesan agar santri memegang teguh visi sebagai Ulul Albab—generasi yang tidak hanya berpikir rasional dan logis, tetapi juga senantiasa berzikir dan bertafakur. “Sebab, dengan hanya berpikir saja kita tidak dapat memaknai kebenaran hakiki dari Allah SWT. Semoga para santri menjadi generasi yang memiliki kedalaman hati (qalb),” tambahnya.

 

Setelah penyampaian Tausiyah Kebangsaan oleh Ustadz Ichsan Habibi, seluruh rangkaian acara diakhiri dengan aksi kepedulian sosial berupa penyerahan bantuan santunan secara simbolis kepada 64 orang kaum dhuafa. (Gema)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.