Pena Tajam di Atas Tanah yang Terluka: Refleksi Hari Kebebasan Pers di Bumi Serumpun Sebalai

oleh -61 Dilihat
oleh
banner 468x60

Oleh: Ahmad Wahyudi (Ketua SMSI Bangka)

 

banner 336x280

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Di atas bumi Serumpun Sebalai, tempat kita berpijak dan menaruh harapan, alam sedang bercerita tentang kesakitan. Angin yang berembus tak lagi murni membawa aroma hutan, melainkan debu pasir yang terbang liar, menutup pandangan dan menyesakkan dada. Di balik rimbunnya semak, tersimpan luka yang menganga, lahan yang terkoyak dan lubang-lubang hitam yang menjalin duka akibat keserakahan manusia.

 

Bukan rahasia lagi, mesin-mesin tambang menderu di tengah sunyi malam seperti predator yang tak pernah kenyang. Mereka menggali harta karun bumi tanpa belas kasihan. Hutan yang dulunya hijau dan rimbun paru-paru bagi anak cucu kita kini berubah warna menjadi kelam.

 

“Tanah tercinta kita sedang menangis. Luka di tubuhnya kian menganga, hancur oleh loba yang tertutup debu buta.”

 

Kerusakan ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi masa depan. Jika hari ini kita membiarkan bumi dijarah, apa yang tersisa untuk generasi mendatang selain warisan lubang dan air yang keruh?

 

Namun, di tengah kepungan debu dan deru mesin ilegal, hari ini kita memperingati Hari Kebebasan Pers Dunia. Momentum ini bukan sekadar seremonial tanpa makna, melainkan pengingat akan tugas suci para kuli tinta.

 

Pers adalah “pena yang menari” di atas luka pertiwi. Di saat hukum seolah tumpul dan mata-mata menutup diri, pers hadir untuk:

 

• Menyuarakan Kebenaran: Mengungkap fakta di balik tabir gelap pertambangan ilegal.

 

• Menjadi Penjaga Alam: Menjaga agar keadilan lingkungan bukan sekadar mimpi di siang bolong.

 

• Melawan Arus: Tak gentar meski badai ancaman menghalangi langkah.

 

 

Kebebasan pers di Bangka Belitung adalah cahaya di tengah gulita. Tanpa jurnalisme yang kritis dan berani, kerusakan alam akan dianggap sebagai kewajaran yang dibungkam oleh rupiah.

 

Kami percaya, pena lebih tajam daripada mata bor tambang. Suara kami takkan padam hanya karena debu-debu yang mencoba menutup mata publik. Demi tegaknya hukum dan lestarinya alam, pers akan terus berdiri tegak di garda terdepan.

 

Di Hari Kebebasan Pers Dunia ini, mari kita berkomitmen: biarlah pena ini terus menari, membuka tabir yang tersembunyi, demi secercah harapan bagi Bumi Serumpun Sebalai. Karena jika suara pers padam, maka hilanglah alarm terakhir bagi kelestarian tanah tercinta ini. (4WD)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.