Panitia SPMB 2025: Sungguh “Menyenangkan” Membuat Orang Tua Merasa Terhina!

oleh -481 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Sungguh indah sekali rasanya melihat bagaimana panitia Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 di beberapa SMA di Pangkalpinang, khususnya SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 3, telah berhasil gemilang membuat orang tua calon siswa baru merasa “sangat menyenangkan” dengan informasi yang mereka berikan.

 

banner 336x280

Tentu saja, “menyenangkan” di sini adalah ungkapan ironis untuk kekecewaan yang mendalam. Bayangkan, di tengah semangat pemerintah yang begitu luar biasa menjamin setiap warga negara wajib sekolah hingga 12 tahun, sistem SPMB zonasi 2025 justru sukses besar menciptakan polemik.

 

Padahal, aturan zonasi sudah dibuat sedemikian rupa indahnya, membagi cakupan penerimaan menjadi empat kategori. Domisili (50%), Prestasi (25%), Afirmasi (20%), dan Mutasi (5%). Sebuah sistem yang begitu sempurna, bukan? Namun, panitia SPMB 2025-2026 di Pangkalpinang tampaknya punya visi lain.

 

Menurut Rita, seorang ibu yang begitu sabar menceritakan pengalamannya, salah satu panitia dari SMA melontarkan kalimat yang sungguh mengharukan.

 

“Kalau kami hanya mengandalkan domisili siswa yang terdekat tanpa menekan angka, maka banyak siswa-siswa bodoh yang akan masuk ke SMA kami.” Oh, betapa bijaksananya perkataan itu! Seolah-olah mereka lupa, jalur prestasi 25% itu disediakan hanya sebagai hiasan, ya? Dan jalur domisili untuk warga sekitar yang hanya berjarak kurang dari 10 km itu mungkin hanya gurauan belaka.

 

Pemerintah provinsi sudah sangat jelas menegaskan bahwa

 

“tidak ada lagi sekolah favorit, sekolah ternama, atau sekolah unggulan, semuanya rata dan semuanya sama.” Sebuah idealisme yang patut diacungi jempol, bukan?

 

Namun, apa yang dialami orang tua di SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 3 sungguh sangat-sangat “menyesatkan”. Kita patut bertepuk tangan untuk kreativitas panitia dalam menafsirkan aturan.

 

Saat dikonfirmasi, Kabid Penerimaan Siswa SMA Dinas Pendidikan Babel, Harun, dengan nada yang begitu menyejukkan hati, hanya mampu berujar,

 

“Sabar. Yang ngomong tuh dak punya hati nurani dan dak paham dengan tugas sebagai guru.” Sebuah penjelasan yang begitu mendalam dan memuaskan. Selasa,(24/6)

 

Kemudian, Harun dengan penuh janji dan harapan menambahkan, “Besok saya tindaklanjuti.”tutupnya

 

Kita semua menantikan dengan penuh antusias bagaimana “tindak lanjut” ini akan membawa keadilan bagi para orang tua yang “beruntung” mendapatkan pengalaman ini. Semoga saja, kebijaksanaan panitia sekolah tidak lagi “menyenangkan” hati orang tua di masa mendatang. (MJ001)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.