Panggung Sandiwara Pemkot Pangkalpinang: Ketika Wakil Walikota Menjadi Pajangan Berdebu dan Kuasa Bunda PAUD Membelah Diri

oleh -619 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Panggung politik Kota Pangkalpinang kini tengah mempertontonkan sebuah drama teatrikal yang mengundang tanya. Di bawah nakhoda seorang akademisi bergelar profesor, roda pemerintahan seolah kehilangan kompas keadilan, memicu riak desas-desus di tengah masyarakat yang kian hari kian membubung tinggi. Bak fenomena aneh tapi nyata, dinamika tata kelola birokrasi di kota ini dinilai mulai keluar dari rel profesionalisme.

 

banner 336x280

Bak sepasang sandal yang kehilangan pasangannya, keberadaan Wakil Walikota Pangkalpinang, Desi Ayutrisna, kini seolah-olah menjelma menjadi pajangan berdebu di sudut etalase birokrasi. Hak suara yang sejatinya menjadi pemantik aspirasi, hak bicara yang seharusnya menggema di podium publik, serta hak untuk memimpin, kini tampak layu sebelum berkembang dikebiri oleh sistem yang kian hari kian menunjukkan anomali yang mencolok.

 

Sorotan tajam awak media tertuju pada selembar dokumen resmi agenda harian Pemerintah Kota Pangkalpinang tertanggal Sabtu, 06 Juni 2026. Lembaran kertas itu seolah menjadi saksi bisu atas sebuah fenomena aneh tapi nyata, hukum fisika seakan runtuh di tangan kekuasaan. Bagaimana tidak, dalam waktu yang bersamaan di tiga tempat yang berbeda mulai dari Swiss-Belhotel, Balai Betason Kantor Walikota, hingga Bangka City Hotel seluruh agenda resmi tersebut secara serentak “dikuasai” dan dihadiri oleh Bunda PAUD Pangkalpinang, Susanti, yang tak lain merupakan istri dari sang profesor pimpinan tertinggi kota.

 

Gaya kepemimpinan baru yang semula dielu-elukan bagai fajar menyingsing yang akan membawa Pangkalpinang menuju kemajuan, kini justru dinilai melahirkan kembali bayang-bayang kelam masa lalu. Publik dibuat terheran-heran dan bertanya dalam bisik-bisik yang riuh, mengapa posisi seorang wakil walikota yang dipilih oleh rakyat harus tersisih oleh peran dinasti domestik? Mengapa ketika sang wakil berada di tempat dan siap mengabdi, panggung kehormatan justru diserahkan kepada sosok yang tak memiliki mandat konstitusional dalam struktur birokrasi pemerintahan kota?

 

Upaya untuk merobek tabir misteri ini terus dilakukan oleh awak media. Ketika mencoba mengetuk pintu konfirmasi Kepala Bidang Protokoler Setda Kota Pangkalpinang guna mempertanyakan kejanggalan agenda yang terkesan pilih kasih ini, yang ditemui hanyalah dinding keheningan. Panggilan telepon membentur ruang kosong, dan pesan singkat via WhatsApp hanya menampakkan tanda ceklis satu—sebuah simbol bungkamnya otoritas di tengah badai pertanyaan publik yang kian menderu.

 

Apakah ada tangan-tangan tak terlihat yang sedang menekan tombol kendali di balik layar? Ataukah sang pimpinan tertinggi sengaja merancang skenario untuk meredupkan cahaya wakilnya sendiri? Setiap kali sang wakil muncul, bayang-bayang Walikota Profesor Safarudin selalu melekat erat seolah enggan memberi ruang bagi kemandirian sang pendamping politik.

 

Kini, Pangkalpinang sedang menangis dalam diam. Kota yang dahulu dengan bangga menyandang jargon sebagai “Kota Beribu Senyuman,” perlahan tapi pasti, senyuman itu seolah memudar, terkikis oleh ironi kepemimpinan yang menyisakan kesedihan dan tangisan di balik megahnya meja kekuasaan. (4WD)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.