PAI CARE SPACE: Langkah Pengawas Kemenag Pangkalpinang Kawal Mental Siswa di Era Digital

oleh -327 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Era digital menghadirkan tantangan ganda bagi dunia pendidikan: di satu sisi membuka kran informasi, namun di sisi lain menyimpan potensi ancaman psikologis maupun kejahatan siber yang makin mengintai peserta didik. Menjawab urgensi tersebut, Pengawas Pendidikan Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang, Kartika Sari, berpartisipasi aktif dalam ajang PAI CARE SPACE yang digelar secara virtual oleh Bidang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam (Papkis) Kanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (23/7/2026).

 

banner 336x280

Mengusung tema sentral “Menjadi Ruang Aman bagi Murid di Era Digital” sekaligus Pembekalan Calon Advisor, forum ini dirancang sebagai langkah strategis untuk memperkuat benteng perlindungan mental dan spiritual siswa di sekolah. Acara ini menghadirkan Abdillah Arif, Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMAN 1 Merawang, yang membedah pentingnya sinergi antara pendekatan keagamaan dan pendampingan konseling di tengah derasnya arus modernisasi.

 

Dalam pemaparannya, Abdillah Arif menekankan bahwa ruang aman (safe space) bagi murid tidak cukup sekadar dibangun melalui aturan fisik di sekolah, melainkan membutuhkan keterbukaan emosional dan pendekatan humanis dari para pendidik, khususnya pendidik agama.

 

“Anak-anak di era digital membutuhkan tempat bercerita yang aman tanpa rasa takut dihakimi. Guru PAI dan pengawas memiliki peran sentral untuk memosisikan diri sebagai pendengar yang empati, menghubungkan nilai-nilai spiritual dengan realitas kehidupan digital yang dihadapi para siswa hari ini,” ujar Abdillah.

 

Melalui pembekalan calon advisor ini, para peserta diajak untuk mempertajam identifikasi dini terhadap berbagai risiko digital yang mengintai siswa, seperti gejala stres, cyberbullying, hingga kecanduan gawai. Pemahaman mengenai indikator awal ini menjadi krusial agar pencegahan dapat dilakukan sebelum berdampak lebih jauh pada kesehatan mental anak.

 

Selain itu, materi pembekalan menyoroti pentingnya pendampingan berbasis empati melalui pola komunikasi dua arah yang terbuka dan konstruktif. Sinergi yang erat antara siswa, guru PAI, dan guru BK diharapkan mampu menciptakan iklim sekolah yang bebas dari intimidasi, sehingga murid merasa nyaman untuk berkonsultasi mengenai tantangan yang mereka hadapi.

 

Upaya tersebut disempurnakan dengan penguatan karakter keagamaan yang berfokus pada penanaman etika bermedia sosial (digital citizenship). Nilai-nilai ajaran Islam diintegrasikan sebagai fondasi moral, sehingga peserta didik tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki kepekaan nurani dan tanggung jawab dalam berinteraksi di dunia maya.

 

Keterlibatan aktif Kartika Sari selaku Pengawas PAI Kemenag Kota Pangkalpinang dalam kegiatan ini menegaskan komitmen instansi untuk mentransformasi peran pengawas dan guru PAI. Pendidik PAI diharapkan tidak hanya fokus pada penyampaian kurikulum kognitif, tetapi juga hadir sebagai pengayom moral dan mental di lingkungan sekolah.

 

Langkah ini menjadi momentum penting dalam menyelaraskan fungsi pengawasan PAI dengan kebutuhan riil siswa di lapangan. Dengan terciptanya ekosistem belajar yang ramah, responsif, dan aman, Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu menjadi benteng kokoh yang melindungi generasi muda dari dampak negatif era digital. (Imelda)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.