PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Dalam Dialog Publik bertajuk “1 Tahun Pangkalpinang Jadi Apa”, sejarawan sekaligus budayawan Bangka Belitung, Dato Akhmad Elvian, menyampaikan paparan komprehensif mengenai rekam jejak pembangunan serta potensi bencana banjir di Kota Pangkalpinang. Acara yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Pangkalpinang tersebut berlangsung di Gedung Tudung Saji, Kantor Wali Kota Pangkalpinang, Rabu (21/10) malam.
Dalam paparannya, Dato Akhmad Elvian menegaskan bahwa secara historis Pangkalpinang dirancang dan dirawat sebagai sebuah “kota air”. Karakteristik geografisnya dibelah oleh dua sungai utama yang berkelok-kelok, sebuah lanskap yang sudah diperhitungkan sejak era pemerintahan kolonial Belanda.
“Belanda melukiskan dan menarasikan keadaan alam Kota Pangkalpinang dengan sangat presisi. Tata kelolanya sudah ada rumusnya dan terbukti. Jika ingin Pangkalpinang aman dari banjir, kita harus memahami tata air ini,” ujar Elvian.
Mengingat kembali riwayat banjir besar yang pernah melumpuhkan Kota Pangkalpinang pada masa kepemimpinan walikota terdahulu, termasuk pada era Irwansyah, Elvian mengingatkan bahwa banjir merupakan salah satu bencana paling merugikan masyarakat. Air yang merendam permukiman merusak berbagai sarana dan harta benda tanpa bisa digunakan kembali.
Guna mengantisipasi terulangnya tragedi serupa, Elvian menyampaikan imbauan terbuka kepada Wali Kota Profesor Saparudin dan Wakil Wali Kota Desy Ayu Trisna (Cece Desy). Ia mendesak pemerintah daerah bersama masyarakat segera mengambil langkah nyata pra-bencana.
“Jika kita ingin menggerakkan gotong royong, mari bersihkan terlebih dahulu alur-alur air dan parit-parit yang dibangun sejak zaman Belanda. Selain itu, pengerukan sedimen tanah di beberapa kolong yang ada di Pangkalpinang harus segera dilakukan agar kapasitas penampungan air kembali optimal,” tegasnya.
Sebagai sosok yang konsisten mencatat dinamika kepemimpinan di Bangka Belitung dan Kota Pangkalpinang setiap hari, Elvian menyatakan bahwa rekam jejak para pejabat akan abadi dalam catatan sejarah, baik prestasi maupun kekurangannya.
“Setiap hari saya menulis sejarah kepemimpinan di daerah ini, baik atau buruk akan tercatat. Satu-satunya cara agar saya berhenti menulis ya dibunuh,” kelakarnya disambut tawa para hadirin.
Di akhir penyampaiannya, Dato Akhmad Elvian mengapresiasi inisiatif Pokja Wartawan Pangkalpinang yang telah menggelar ruang diskusi publik ini. Ia berharap masukan berbasis sejarah dan data kearifan lokal ini dijadikan perhatian khusus oleh jajaran pemerintah kota demi mewujudkan Pangkalpinang yang aman, tertata, dan sejahtera. (4WD)









