Malpraktik RSUD Depati Hamzah: Kilas Kehidupan di Balik Jubah Putih

oleh -370 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Kisah pilu dan intrik tak bertepi seolah menjadi bumbu dalam setiap napas di balik gedung-gedung suci kesehatan.

Di Pangkalpinang, sebuah drama yang lebih pahit dari obat penawar sakit, kembali terkuak.

banner 336x280

Kali ini, sebuah malapraktik di RSUD Depati Hamzah menjadi panggungnya, di mana persaudaraan bagai benang rapuh yang mudah putus.

Cerita ini berawal dari benih-benih iri yang disemai di hati seorang dokter spesialis jantung, sebut saja dr. S, yang tak rela melihat rekan sejawatnya, dr. B, kian menjulang.

Laksana api cemburu yang membara, ia menyewa seorang wanita, yang kita sebut Nona L, untuk menebar fitnah di dunia maya.

Taktiknya begitu licik, mereka menggunakan platform media sosial, bak pedang bermata dua, untuk menuding RSUD Depati Hamzah telah melakukan malapraktik yang merenggut nyawa seorang anak berusia 10 tahun, Aldo.

Namun, seperti kata pepatah, “Tangan yang melempar batu, akhirnya menimpa kepala sendiri.” Drama ini semakin kusut.

Alih-alih menjatuhkan target awal, sang dokter justru tanpa sengaja menyeret rekan seperjuangannya, seorang dokter anak, sebut saja dr. R, ke dalam jurang tuduhan. Ia bagai korban yang salah sasun, yang tiba-tiba harus menghadapi badai tak terduga.

Kasus ini adalah labirin yang penuh jebakan. Fitnah yang semula disebarkan oleh dr. S dan Nona L akhirnya terbukti sebagai hoax, kosong tanpa substansi.

Keduanya telah menerima ganjaran, meringkuk dalam bui selama 7 bulan, menjadi saksi bisu betapa pahitnya buah dari kebohongan.

Namun, ironisnya, dampak dari badai yang mereka ciptakan justru menyapu bersih nasib dr. R, yang ditetapkan sebagai tersangka sebuah kejanggalan yang membuat akal sehat seolah mati suri.

Belakangan, terungkap dalam persidangan, bahwa ada pemain lain di balik layar. Sebuah nama baru mencuat, sebut saja dr. E, yang juga seorang spesialis jantung.

Ia bagai pembisik di kegelapan, berperan menyediakan data dan informasi negatif, turut serta dalam sandiwara yang mencoreng dunia kesehatan.

Kisah ini semakin meruncing dengan munculnya tuntutan finansial yang mengejutkan. Pihak keluarga korban, melalui kuasa hukumnya, dikabarkan menuntut uang damai sebesar Rp2,5 miliar.

Angka ini bagaikan kilatan petir di siang bolong, menyudutkan dr. R dalam posisi yang tak terbayangkan.

Kabar burung pun bertebaran, menyebutkan bahwa uang sebesar itu akan digunakan untuk pembangunan masjid dan biaya keluarga korban.

Hingga detik ini, kasus ini masih terus bergulir. Meski para penyebar fitnah telah diganjar hukuman, luka yang mereka goreskan masih menganga.

Drama di balik jubah putih ini menyisakan sebuah pertanyaan besar “Mengapa harus menjatuhkan orang lain, jika kita bisa terbang lebih tinggi bersama-sama?”

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.