Makna Tradisi Nganggung Menurut Budayawan Dato Akhmad Elvian Saat Peringatan Maulid Nabi

oleh -330 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Tradisi nganggung yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Bangka Belitung tidak sekadar perayaan saat momen besar, melainkan simbol kebersamaan dan kesetaraan yang dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

banner 336x280

Hal tersebut ditegaskan oleh Sejarawan sekaligus Budayawan Bangka Belitung, Dato Akhmad Elvian, saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di pelataran Halaman Masjid Raya Tua Tunu, Selasa (25/8).

 

Dato Akhmad Elvian menjelaskan bahwa nganggung memiliki filosofi mendalam yang disimbolkan melalui susunan hidangan serta tata cara pelaksanaannya. Tradisi ini mempertemukan warga dari berbagai lapisan tanpa membeda-bedakan status sosial.

 

“Acara nganggung ini sebagai simbol kebersamaan. Kita lihat di sini ada rapat ketong (posisi duduk berdekatan/rapat) sebagai simbol kebersamaan dan kesetaraan,” ujar Dato Akhmad Elvian di sela-sela kegiatan.

 

Ia menambahkan, dalam satu dulang nganggung umumnya disajikan dua kelompok makanan utama, yaitu sedulang cerak dan sedulang ketan.

 

Sedulang Cerak: Disimbolkan dengan ketupat. Ia memberikan catatan bahwa penggunaan pembungkus daun tradisional jauh lebih baik dan beretika dibandingkan pembungkus plastik untuk menjaga kelestarian tradisi.

 

• Sedulang Ketan: Disimbolkan dengan lepet dan kue-kue berbahan dasar ketan lainnya.

 

Seluruh hidangan tersebut dianggung (diangkat/dibawa) langsung oleh warga dari rumah masing-masing menuju lokasi pertemuan, seperti masjid, surau, atau tempat perayaan.

Melalui momen peringatan Maulid Nabi ini, kehangatan tradisi nganggung kembali terlihat dari antusiasme masyarakat yang duduk berjejer menikmati hidangan bersama secara khidmat dan penuh rasa kekeluargaan. (4WD)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.