PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Ratusan umat Buddha dari berbagai wilayah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memadati Vihara Satya Dharma, Kelurahan Temberan, Kota Pangkalpinang, pada Senin (15/6/2026). Mereka hadir untuk mengikuti rangkaian ritual Sannipata Waisak 2570 Buddhist Era (BE) yang berlangsung khidmat, penuh haru, sekaligus sarat akan nilai akulturasi budaya lokal.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sakiyo, serta Penyelenggara Buddha Kantor Kemenag Kota Pangkalpinang, Misno. Kehadiran tokoh-tokoh institusi keagamaan ini menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap kebebasan beragama dan kelestarian tradisi spiritual umat Buddha di Babel.
Rangkaian ritual sakral ini diawali dengan prosesi pencucian kaki dan sujud bakti kepada orang tua serta para tokoh agama. Suasana di dalam vihara seketika berubah menjadi penuh emosional saat puluhan generasi muda Buddhis bersujud di hadapan orang tua mereka.
Sambil membasuh kaki ayah dan ibu mereka, bait-bait doa dipanjatkan. Isak tangis haru dari para orang tua dan anak-anak pecah, menciptakan momen refleksi yang mendalam tentang arti pengorbanan dan kasih sayang keluarga.
Setelah prosesi bakti yang menyentuh hati tersebut, ritual dilanjutkan dengan Amisa Puja. Pada tahap ini, umat dengan penuh takzim memberikan persembahan terbaik—berupa dupa, lilin, bunga, air, dan buah-buahan kepada Tri Ratna (Buddha, Dharma, dan Sangha) sebagai wujud penghormatan tertinggi kepada Sang Guru Agung.
Keheningan kian terasa saat seluruh umat menyatukan hati dan pikiran dalam pembacaan sutra dan mantra suci, mengagungkan ajaran kedamaian dan cinta kasih universal.
Uniknya, perayaan Sannipata Waisak di Vihara Satya Dharma ini tidak hanya kental dengan nuansa spiritualitas India kuno tempat Buddha berasal, tetapi juga mengadopsi kearifan lokal Bangka Belitung. Kegiatan diakhiri dengan tradisi ngedulang, yaitu tradisi makan bersama di mana hidangan disajikan di atas talam besar untuk dinikmati oleh beberapa orang sekaligus.
Tradisi yang biasanya lekat dengan budaya Melayu Bangka Belitung ini diadopsi dengan harmonis oleh umat Buddha, menyimbolkan semangat kebersamaan, kesetaraan, tanpa memandang status sosial.
Ketua Panitia Penyelenggara, Endro Lukito menjelaskan bahwa esensi utama dari penyelenggaraan Sannipata Waisak 2570 BE kali ini adalah penguatan moralitas dasar (Sila) yang dimulai dari institusi terkecil, yaitu keluarga.
“Kami sengaja menonjolkan ritual sujud bakti kepada orang tua ini sebagai pengingat bagi generasi muda. Dalam ajaran Buddha, orang tua adalah Brahma di dalam rumah. Menghormati mereka adalah berkah utama. Kami ingin memastikan bahwa perayaan Waisak tidak hanya sekadar seremonial, tetapi membawa perubahan karakter yang nyata,” ujar Endro di sela-sela acara.
Endro juga menambahkan bahwa perpaduan ritual keagamaan dengan tradisi ngedulang sengaja dilakukan untuk menegaskan bahwa umat Buddha di Bangka Belitung senantiasa hidup berdampingan dan menghargai kebudayaan lokal.
Melalui momentum Sannipata Waisak ini, diharapkan umat Buddha di Kepulauan Bangka Belitung dapat terus memancarkan cinta kasih (Metta) dan menjaga keharmonisan, baik di dalam internal keluarga maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Gema)









