Hanya Lip Service? Menengok Kontrasnya Gerakan Bersih-Bersih Walikota Pangkalpinang dan Realita Perkantoran Pemkot yang Kumuh

oleh -453 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Gerakan bersih-bersih lingkungan yang belakangan ini gencar diprakarsai oleh Walikota Pangkalpinang, Profesor Safarudin, tampaknya patut diacungi jempol jika kita hanya melihatnya dari balik layar kamera. Pasalnya, program yang digadang-gadang sebagai bukti kepedulian terhadap bumi berwujud nyata tersebut, diduga kuat tak lebih dari sekadar live service alias pencitraan murahan demi memoles citra di mata publik. Rabu, (3/6/2026).

 

banner 336x280

Berdasarkan pantauan langsung awak media di lapangan, drama kolosal “Pangkalpinang Bersih” ini memang dimainkan dengan sangat apik di tingkat kelurahan. Di sana, Anda akan disuguhi pemandangan mengharukan para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Pangkalpinang turun ke jalan bersama pasukannya. Dengan penuh antusiasme yang meledak-ledak dan gegap gempita, mereka sibuk membersihkan lingkungan warga dari sampah dan rumput liar. Sungguh sebuah pertunjukan yang sangat menyentuh hati rakyat.

 

Namun, cobalah Anda memutar kemudi sedikit saja dan melintasi kawasan inti pemerintahan Kota Pangkalpinang. Ibarat menampar muka sendiri, realita yang tersaji justru berbanding terbalik 180 derajat. Lingkungan di sekitar kantor-kantor OPD Pemkot Pangkalpinang justru tampak sangat kotor, semrawut, dan dibiarkan merana tanpa perhatian.

 

Pemandangan kumuh justru menjadi sajian sehari-hari di area trotoar dan bahu jalan utama perkantoran. Rumput-rumput liar tumbuh tinggi dengan riang gembira seolah-olah kawasan tersebut adalah cagar alam, bukan kompleks perkantoran pemerintahan. Tak hanya itu, daun-daun kering tampak berhamburan mengotori tepian trotoar, sementara rumput dibiarkan menjulur subur di sepanjang median jalan.

 

Kondisi menyedihkan ini juga dipertegas di mana sudut-sudut wilayah perkantoran Pemkot Pangkalpinang terlihat sangat sumpek dan gersang oleh tumpukan kotoran yang tak terurus.

 

Publik pun mulai bertanya-tanya dengan nada sinis. Apakah program lingkungan yang selalu digaung-gaungkan oleh Profesor Udin sapaan akrab sang Walikota ini merupakan program nyata yang tulus, ataukah hanya agenda ala kadar dan sekadarnya saja? Sebuah kosmetik politik agar beliau terlihat begitu dekat dengan masyarakat dan seolah-olah “paling peduli” pada kelestarian alam?

 

Sangat ironis melihat bagaimana wajah pemerintahan Kota Pangkalpinang, yang notabene merupakan muka atau etalase utama dari Ibu Kota Provinsi Bangka Belitung, dibiarkan sekumuh ini. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh sang Profesor.

 

Atau mungkin, kenyamanan berada di dalam mobil sedan mewah dengan kaca film yang hitam pekat telah sukses mengisolasi pandangan beliau, sehingga tidak lagi mampu (atau tidak sudi) melihat betapa kotornya lingkungan kerja di bawah hidungnya sendiri?

 

Masyarakat kini disuguhi tontonan yang menggelitik, kebersihan adalah kewajiban warga di kelurahan, sementara kekumuhan adalah hak istimewa di lingkungan perkantoran Pemkot. Jika area perkantoran OPD-nya sendiri saja diabaikan hingga menyerupai semak belukar yang tak bertuan, maka jargon-jargon lingkungan hidup yang diteriakkan selama ini tak lebih dari sekadar bualan pengantar tidur. (4WD)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.