Gelar Profesor, Tapi Lupa Cara Baca Data? Skandal iPad Mewah Pangkalpinang yang “Katanya” Hoaks

oleh -1827 Dilihat
oleh
banner 468x60

Berita-Fakta – Sungguh sebuah pertunjukan komedi birokrasi yang memukau. Di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja, Walikota Pangkalpinang, Profesor Saparudin (atau yang akrab disapa Prof Udin), mendadak menunjukkan bakat luar biasa dalam seni menyangkal kenyataan.

​Beliau dengan gagah berani mengklaim bahwa pemberitaan mengenai pembelian iPad mewah dan laptop menggunakan dana APBD adalah sebuah kebohongan alias hoaks. Luar biasa. Sebuah bantahan yang sangat rapi, seolah-olah data negara bisa menguap begitu saja hanya dengan satu kalimat penyangkalan.

banner 336x280

​
​Mari kita bantu menyegarkan ingatan sang Profesor. Berdasarkan penelusuran valid dari dokumen negara pada situs LPSE Kota Pangkalpinang, pengadaan ini bukan sekadar dongeng sebelum tidur. Perkerjaan dengan Kode RUP 66430206 atas Paket Belanja Modal Komputer Unit Lainnya dalam Satuan Kerja Sekretariat Daerah (Sekda) Kota Pangkalpinang Tahun Anggaran: 2026 dengan Total Anggaran: Rp 189.500.000 (Hampir dua ratus juta rupiah!)
​Mungkin bagi seorang pejabat, uang rakyat hampir 200 juta rupiah hanyalah “recehan” untuk membeli mainan baru. Namun, bagi publik, ini adalah luka di tengah masa prihatin anggaran.

​Jika Prof Udin menyebut berita ini hoaks, barangkali beliau perlu jalan-jalan sore ke wilayah Semabung. Tim media telah melakukan kroscek lapangan dan menemukan fakta menarik: salah satu toko komputer di Jalan Semabung telah keluar sebagai pemenang tender untuk pengadaan barang mewah tersebut.

​Apakah toko tersebut juga bagian dari “konspirasi hoaks”? Ataukah barang-barang mewah itu tiba-tiba jatuh dari langit tanpa melewati proses lelang yang terekam jelas di sistem?
​”Sungguh sebuah fenomena menipu masyarakat yang sangat tidak elegan. Mengklaim sesuatu sebagai hoaks padahal jejak digitalnya sudah telanjang bulat di situs LPSE dan fisiknya sudah diamankan di pemenang lelang,” ujar salah satu pengamat kebijakan publik.

​Cukup menggelitik melihat bagaimana sang Walikota menggunakan media-media yang bekerja sama dengan Pemkot untuk mencuci tangan. Narasi “kebohongan” dibangun dengan rapi untuk membungkam kritik. Namun sayang, data negara tidak punya kepentingan untuk menjilat.

​Pengadaan iPad dan laptop mewah ini adalah bukti nyata betapa prioritas pemimpin kita mungkin memang lebih condong ke gadget terbaru daripada perut rakyat yang terbaru. Jika data sudah bicara dan barang sudah dipesan, apalagi yang mau disangkal? Apakah besok judulnya akan berubah menjadi “Pura-pura Lupa”?
​Publik Pangkalpinang tentu tidak butuh gelar Profesor untuk memahami bahwa Rp 189 juta untuk gadget di saat rakyat susah adalah sebuah ironi yang tidak lucu.(4WD)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.