PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM— Panggung debat Calon Wali Kota Pangkalpinang bagai medan perang gagasan. Empat jagoan, Eka Mulya (nomor 1), Maulan Aklil (nomor 2), Saparudin (nomor 3), dan Basid Cinda (nomor 4) saling unjuk gigi, memamerkan strategi andalan mereka untuk mengurai benang kusut inflasi dan ketahanan pangan yang membelenggu Kota Pangkalpinang.
Pertanyaan dari Panelis, sang penelis, menohok tepat ke jantung persoalan: “Bagaimana strategi konkret saudara untuk mengatasi tingginya inflasi dan masalah ketahanan pangan di Kota Pangkalpinang?”
Maulan Aklil, sang petahana, melayangkan jawaban yang lugas. Ia menyebut biang keladi inflasi adalah biaya logistik yang melangit. “Perlu ada pelabuhan baru,” ujarnya, “sebelum penyebatan emas, yaitu pelabuhan New Port Pangkal Balam.
” Ia mengibaratkan pelabuhan ini sebagai “pintu gerbang” yang akan mempercepat distribusi barang dan memangkas biaya. Tak hanya itu, ia juga menekankan pentingnya kemandirian masyarakat, mengajak setiap rumah tangga untuk “menanam cabai” sebagai perisai dari gejolak harga.
Saparudin, menanggapi jawaban Maulan Aklil, menyepakati pentingnya pelabuhan. Namun, ia mengingatkan bahwa “pelabuhan ini kewenangannya di provinsi,” sehingga diperlukan kerja sama yang erat dengan pemerintah provinsi. Tak mau kalah, Saparudin juga menyoroti jeritan hati emak-emak yang tercekik harga sembako. “Kita harus sering mengadakan operasi pasar, pasar murah,” katanya, seolah-olah “menyalakan lilin” di tengah kegelapan harga yang mencekik.
Basid Cinda melengkapi narasi dengan strategi yang lebih tajam. Ia menggarisbawahi perlunya kontrol terhadap timbunan barang. Menurutnya, pelabuhan dan operasi pasar saja tak cukup.
“Kalau kemudian timbunan-timbunan di titik-titik tertentu tidak dikontrol, maka akan terjadi kelangkaan barang,” tegasnya. Basid Cinda bagai “mata elang” yang siap mengawasi setiap sudut kota, memastikan tidak ada pihak yang menimbun barang untuk keuntungan pribadi.
Eka Mulya tampil sebagai penutup dengan gagasan yang komprehensif. Ia memandang masalah ini secara “holistik dan komprehensif,” bukan sekadar menambal kebocoran. “Kalau cuma masalah pelabuhan, segala macam, tapi kalau kita tidak memproduksi sendiri barang-barang, maka ini tidak akan selesai-selesai,” kritiknya.
Eka Mulya bagai “arsitek” yang ingin membangun fondasi ekonomi yang kuat, menjadikan Pangkalpinang sebagai “kota perdagangan industri dan biasa,” di mana masyarakatnya mandiri dan mampu memproduksi kebutuhannya sendiri.
Empat strategi, empat pandangan, dan satu tujuan: membebaskan Pangkalpinang dari belenggu inflasi dan mewujudkan ketahanan pangan. Debat ini menjadi cermin bagi masyarakat untuk memilih “nahkoda” yang paling andal untuk mengarungi lautan persoalan ini. (MJ001)












