PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang, H. Firmantasi, memaparkan materi dalam kegiatan dialog moderasi beragama yang bertema “Mewujudkan Lembaga Pendidikan yang Toleran dan Cinta Kemanusiaan” yang diselenggarakan oleh PD IPARI Pangkalpinang bekerjasama dengan Yayasan Vitus Bouma di TK/SD Santa Theresia 1 Pangkalpinang, Jum’at (01/08).
Dalam paparannya, H. Firmantasi menekankan bahwa para pendiri bangsa telah memberikan landasan kuat terkait kebebasan beragama melalui berbagai regulasi. Ia mengutip UUD 1945 Pasal 29 Ayat 2 yang menyatakan, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.” Pasal ini menjadi landasan hukum yang menjamin kebebasan beragama bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Sebagai fasilitator kehidupan beragama dalam keberagaman, Kementerian Agama (Kemenag) hadir berdasarkan Perpres Nomor 12 Tahun 2023. Peraturan ini menetapkan Kemenag sebagai lembaga pemerintah yang menyelenggarakan urusan di bidang agama dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.
H. Firmantasi juga menjelaskan bahwa Kemenag memiliki berbagai program prioritas, salah satunya Asta Program Prioritas. Di dalamnya, terdapat fokus pada peningkatan kerukunan dan cinta kemanusiaan, serta penguatan ekoteologi.
Program-program ini menjadi acuan dalam upaya Kemenag mengimplementasikan moderasi beragama di berbagai lapisan masyarakat, termasuk dunia pendidikan.
H. Firmantasi menegaskan bahwa kehadiran Kemenag di acara tersebut merupakan bagian dari implementasi program prioritas.
“Kami hadir di sini untuk mengimplementasikan program tersebut, menyapa sekaligus menguatkan pemahaman dalam konteks kerukunan. Walaupun kita berbeda keyakinan, namun kita satu sebagai anak bangsa,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap kompak, solid, dan bersatu dalam menjaga keutuhan negara. “Yang mau merusak bangsa ini harus berhadapan dengan kita, umat 6 agama yang ada,” tegasnya, menunjukkan komitmen bersama untuk menjaga persatuan.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mengimplementasikan cinta kemanusiaan dan ekoteologi di lingkungan pendidikan. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman yang benar kepada anak didik sejak dini.
“Penguatan ekoteologi harus kita wujudkan dengan merawat dan menjaga alam. Ketika kita mencintai alam, maka alam akan memberikan manfaat kepada kita,” paparnya.
Firmantasi juga mengajak peserta untuk memahami keberagaman sebagai anugerah yang harus dirawat, bukan sebagai sumber perpecahan atau permusuhan. Dengan demikian, semangat toleransi dan cinta kemanusiaan dapat tumbuh dan berkembang, menciptakan generasi penerus yang berwawasan luas dan penuh kasih. (GV004)











