PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM – Bak siluman yang gemar mengubah rupa, Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Wilayah Bangka Belitung kembali membuat dahi berkerut di kota Pangkalpinang. Setelah riwayat menghilangkan jejak tiang tapal batas titik nol Pulau Bangka, kini tangan-tangan tak terlihat itu seolah-olah menggeser luasan Ibu Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejauh satu kilometer ke arah selatan, menyusup ke wilayah Koba, Kabupaten Bangka Tengah, atau Bangka Selatan. Akal sehat pun bertanya-tanya, apa gerangan yang melintas di benak para punggawa BPJN Babel?
Sebelum ini, publik dihebohkan dengan aksi sulap titik nol Pulau Bangka yang hilang, seolah ditelan bumi. Kini, saga misteri itu berlanjut dengan pergeseran batas kota. Titik yang seharusnya menjadi tapal batas Pulau Bangka sepanjang dua kilometer kini dicubit menjadi satu kilometer. Tiang tapal batas satu kilometer itu pun bertengger gagah di atas Jalan Soekarno Hatta, tepatnya di Kelurahan Batu Intan, Kecamatan Girimaya, Kota Pangkalpinang.
Namun, mata jeli pengemudi yang melintas dari Titik Nol Kilometer di depan Gereja Martadinata, jauh dari Masjid Kubah Timah, akan melihat sebuah kejanggalan. Saat memacu kendaraan menuju Jalan Soekarno Hatta, tepatnya di depan Gang Singapura atau dekat toko bertuliskan “Hoock”. Namun, tiang tersebut kini menghilang. Sedangkan depan Bank BNI Syariah atau Apotek Kimia Farma, sebuah tiang menunjukkan titik 1Km luasan Kota Pangkalpinang. Ironisnya, hasil pengukuran speedometer motor menunjukkan jarak dari titik nol ke tiang satu kilometer tersebut ternyata sepanjang dua kilometer!
Bak pencuri yang beraksi di malam sunyi, tindakan BPJN Babel ini nyata-nyata telah melampaui batas dan melanggar aturan. Luasan Kota Pangkalpinang seluas satu kilometer telah dilenyapkan, seolah tak pernah ada. Luasan itu mencakup beberapa kecamatan dan kelurahan yang berjejer di sepanjang jalan tersebut.
Padahal, satu kilometer Kota Pangkalpinang itu sejatinya berada di Jalan Singapore sedangkan posisi dua kilometer, yang kini disulap menjadi satu kilometer. Sementara itu, tiang yang berdiri tegak tak jauh dari SD SMP Santa Maria atau jalan Koba sudah menunjukkan angka dua kilometer. Jika titik nol sampai ke titik satu kilometer yang berada di Jalan Koba diartikan sebagai hilangnya satu kilometer luasan Kota Pangkalpinang, maka jelaslah ini adalah kesengajaan yang dilakukan oleh BPJN Babel.
Setelah badai pemberitaan mengenai proyek tapal batas atau tiang penanda kilometer Pulau Bangka dari Kota Pangkalpinang sampai Koba-Toboali mereda, terkuaklah sebuah rahasia. Rupanya, ada proyek pengadaan tiang tapal batas. Di beberapa lokasi, dua tiang kilometer yang dipasang memiliki rupa yang hampir serupa, dan kedua tiang tersebut adalah milik BPJN Babel. Ada apa gerangan dengan BPJN Babel yang tak henti-hentinya berulah di Kota Pangkalpinang?
Awalnya, mereka ingin melenyapkan titik nol kilometer Pulau Bangka. Namun, berkat gemuruh suara publik yang ramai diberitakan, tiang tersebut akhirnya dapat ditemukan dan kembali ke tempatnya pada tanggal 17 Agustus 2024. Tiang titik nol yang berada di depan Gereja Martadinata kembali terpasang.
Namun, kini BPJN kembali mengambil alih peran dengan menghilangkan satu kilometer luasan Kota Pangkalpinang ke arah selatan, meliputi Kelurahan Kompas Indah, Kelurahan Pasir Padi, Kelurahan Masjid Jami, hingga Kelurahan Batu Intan, dan Kelurahan Semabung.
Berdasarkan peta zaman Belanda, terkait tapal batas satu kilometer yang berubah, yang tadinya berada sedikit lewat dari Gang Singapura di depan toko bertuliskan “Hoock”, kini lenyap tak berbekas. Posisi tiang tapal batas dua kilometer yang diubah menjadi satu kilometer kini berubah di Pos Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Batu Intan, atau tepatnya di seberang Bank BNI Syariah dan Apotek Kimia Farma. Sedangkan tiga kilometer berada di depan gerbang Kuburan Sentosa. Tindakan ini jelas menyalahi kodrat, tidak sesuai dengan apa yang seharusnya.
Padahal, baru kemarin BPJN bersama-sama mengembalikan titik nol kilometer tepat pada hari kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Pangkalpinang. Masyarakat berharap BPJN dapat bersinergi dengan masyarakat Kota Pangkalpinang, para budayawan, tokoh sejarah, dan pemuda agar tragedi serupa tidak terulang kembali. Kejadian ini berpotensi menimbulkan kerugian dan mencoba melenyapkan jati diri Kota Pangkalpinang, karena tapal batas itu adalah penanda yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.
Semoga kejadian ini menjadi cambuk dan memberikan pencerahan agar BPJN Babel bersinergi dan berkolaborasi dengan para tokoh di Kota Pangkalpinang. Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi dari pihak BPJN Babel terkait permasalahan tersebut. Kami akan terus berupaya untuk mendapatkan jawaban atas misteri kilometer yang hilang ini. (MJ001)













