Dialog Publik 1 Tahun PKP Jadi Apa: Soroti Kebijakan Pemkot Pangkalpinang, Sejarah, hingga Masalah Banjir

oleh -205 Dilihat
oleh
banner 468x60

PANGKALPINANG, BERITA-FAKTA.COM — Kelompok Kerja Wartawan dan Pers Pengkal menyelenggarakan kegiatan Dialog Publik bertajuk “1 Tahun Pengkal Jadi Apa” pada Rabu (21/10) di halaman Gedung Tudung Saji, Kompleks Kantor Wali Kota Pangkalpinang.

 

banner 336x280

Acara yang dikawal hingga usai oleh aparat Polresta Pangkalpinang di bawah jajaran Kabag Ops Kompol Dewi Rahmalis Munir ini dihadiri oleh sejumlah narasumber dari pakar pendidikan, akademisi/pengamat kebijakan publik, sejarawan, hingga kalangan mahasiswa.

 

Dalam diskusi tersebut, sejumlah narasumber memaparkan data serta pandangan kritis terkait kebijakan pemerintah daerah, penanganan banjir, hingga pengelolaan sejarah kota.

 

 

Narasumber pertama, Edi Supriadi, mengklarifikasi dinamika klaim pembangunan fasilitas pendidikan di Pangkalpinang, khususnya SMP Negeri 11. Edi menegaskan bahwa Detail Engineering Design (DED) untuk sekolah tersebut telah dibuat sejak lima tahun lalu saat ia menjabat di Dinas Pendidikan. Menurutnya, fondasi program pembangunan di kota ini sebagian besar telah diletakkan oleh para pemimpin terdahulu.

 

Selain itu, diskusi juga membedah implementasi kebijakan Smart Parking berbasis ponsel yang dinilai belum optimal di lapangan. Kebijakan ini dianggap masih menghadapi kendala kontrol dan pengendalian di masyarakat. Para peserta mencatat bahwa konsep Smart City, termasuk penyediaan internet gratis, sebenarnya telah dirintis oleh kepemimpinan periode-periode sebelumnya sehingga pemerintah saat ini diharapkan dapat melanjutkan serta menyempurnakan regulasi yang ada.

 

 

Dari sudut pandang insan pers dan pengamat kebijakan publik, dialog ini menekankan pentingnya keterbukaan informasi publik serta sikap terbuka Pemkot Pangkalpinang terhadap masukan masyarakat.

 

Kritik dari warga dan media dinilai sebagai bentuk kepedulian agar Kota Pangkalpinang tidak sekadar menjadi ajang uji coba pergantian program setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan. Menurut narasumber, gagasan pemimpin belum tentu sepenuhnya menjawab kebutuhan warga jika tidak diselaraskan dengan kondisi riil di lapangan.

 

 

Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Datuk Akhmad Elvian menyoroti pentingnya menjaga histori Kota Pangkalpinang yang telah terbentuk sejak era kolonial Belanda seperti asal-usul nama “Pangkal” dari keberadaan pelabuhan hingga tata ruang kawasan perkotaan. Ia menyayangkan apabila nilai-nilai sejarah tersebut terabaikan dalam pembangunan modern.

 

Terkait penanganan banjir, ia mendorong langkah konkret Pemkot Pangkalpinang, seperti pengerukan dasar Kolong Retensi Kacang Pedang pada musim kemarau saat air surut. Kolong tersebut merupakan sumber air baku sekaligus penampung luapan air kota. Pengerukan dinilai penting sebagai antisipasi siklus banjir besar yang berpotensi terjadi dalam rentang berkala.

 

 

Ketua Pelaksana Kegiatan, Jinggo, menyampaikan terima kasih kepada seluruh narasumber, peserta dari kalangan kampus, serta jajaran Polresta Pangkalpinang dan jajaran pengamanan yang telah mengawal jalannya acara hingga kondusif.

 

“Melalui dialog seperti ini, masyarakat berharap dapat menyalurkan kritik dan masukan konstruktif untuk pembangunan Pangkalpinang, tanpa menganggap pemikir kritis sebagai pihak yang berseberangan,” ujar Jinggo.

 

Ia menambahkan, meskipun diselenggarakan dengan efisiensi anggaran, dialog publik ini diharapkan memberikan kontribusi pemikiran nyata bagi kemajuan Kota Pangkalpinang ke depan. (4WD)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.