Lintas Agama Masuk Kampus, Penyuluh Kemenag Pangkalpinang-UBB Kompak Suarakan Moderasi

oleh -530 Dilihat
oleh
banner 468x60

BANGKA, BERITA-FAKTA.COM – Sinergi lintas sektoral dalam penguatan nilai-nilai kebangsaan dan lingkungan hidup terus digalakkan di lingkungan akademisi. Penyuluh Lintas Agama Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang melakukan kolaborasi strategis dengan Universitas Bangka Belitung (UBB) melalui sesi pembelajaran interaktif yang menyasar generasi muda.

 

banner 336x280

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Babel I, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) pada Rabu (13/05) ini, mempertemukan dua perspektif krusial dalam kehidupan berbangsa saat ini: Moderasi Beragama dan Ekoteologi.

 

Sebanyak 29 mahasiswa hadir mengikuti jalannya perkuliahan yang diinisiasi oleh Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) UBB, Susilawati. Kehadiran penyuluh dari Kemenag Pangkalpinang, yakni Yohanes Bosco Otto dan Neng Ilma Aprilyanti, memberikan dimensi baru dalam ruang kelas melalui pendekatan praktis dan teologis yang inklusif.

 

Dosen PAI UBB, Susilawati, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk memperluas cakrawala berpikir mahasiswa agar tidak hanya memahami agama secara tekstual, tetapi juga kontekstual dalam menghadapi isu-isu kontemporer.

 

Neng Ilma Aprilyanti, yang juga merupakan representasi generasi milenial, membawakan materi mengenai pentingnya moderasi beragama. Pemilihan Neng Ilma sebagai pemateri dinilai sangat relevan guna menjembatani komunikasi dengan mahasiswa yang merupakan Generasi Z.

 

“Pendekatan sesama generasi muda memudahkan transformasi nilai-nilai toleransi agar lebih mudah diterima tanpa terkesan menggurui,” jelasnya di sela-sela kegiatan.

 

Yohanes Bosco Otto, yang selain menjabat sebagai Penyuluh Lintas Agama juga merupakan Dosen Luar Biasa Agama Katolik di UBB, memaparkan konsep Ekoteologi. Ia menekankan bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian integral dari perintah agama. Mahasiswa diajak untuk melihat krisis lingkungan bukan hanya sebagai isu saintifik, melainkan tanggung jawab spiritual.

 

“Ekoteologi mengajak mahasiswa untuk menyadari bahwa menjaga alam bukan sekadar tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, melainkan panggilan iman yang mendalam. Kita ingin generasi muda memahami bahwa merusak alam berarti mencederai nilai-nilai ketuhanan yang ada dalam setiap ajaran agama,” ujar Yohanes Bosco.

 

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah konkret untuk mempertemukan pemahaman antarumat beragama di ruang akademis. “Melalui pembelajaran kolaboratif ini, kita membangun jembatan komunikasi lintas iman sekaligus membekali mahasiswa dengan etika lingkungan yang kuat,” imbuhnya.

 

Dosen PAI UBB, Susilawati, mengapresiasi kehadiran para penyuluh Kemenag ini. Menurutnya, kehadiran praktisi lintas agama seperti Yohanes dan Ilma memberikan wawasan yang lebih luas bagi mahasiswa dalam memahami dinamika sosial dan isu global dari perspektif teologis yang beragam.

 

Keterlibatan aktif penyuluh lintas agama dalam lingkungan kampus diharapkan mampu menciptakan laboratorium keberagaman yang sehat. Dengan mengintegrasikan isu lingkungan (Ekoteologi) ke dalam diskursus agama, para mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya religius secara personal, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan ekologis.

 

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa Kantor Kemenag Kota Pangkalpinang terus berkomitmen untuk “menjemput bola” dalam menyosialisasikan program-program strategis nasional, khususnya Moderasi Beragama, kepada sektor-sektor strategis seperti dunia pendidikan tinggi. (Imelda)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.