Kampung Dul Penuh Misteri, Saksi Bisu Heroisme di Jantung Bangka. Sejarah Gemilang Abdullah Djalil

oleh -372 Dilihat
oleh
banner 468x60

BANGKA BELITUNG, BERITA-FAKTA.COM – Tanah Bangka, seolah kanvas tua yang merekam jejak langkah sejarah, menyimpan kisah-kisah heroik yang tak lekang oleh zaman. Salah satunya terukir indah di Kampung Dul, sebuah toponimi yang bukan sekadar nama, melainkan cerminan keberanian dan kemenangan. Di balik kata “Dul”, bersemayamlah jejak seorang pahlawan, Abdullah Djalil, yang namanya kini kembali “diangkat” oleh sejarawan dan budayawan Babel, Dato’ Akhmad Elvian. DPMP.

 

banner 336x280

Bak naga yang mengamuk, pada tahun 1792-1793 Masehi, Panglima Raman dari Kerajaan Lingga “menyemburkan” api penaklukkan ke Pulau Bangka. Matanya terarah pada Palembang, berhasrat mengusir VOC dan merebut urat nadi timah Bangka yang bagaikan “emas cair”.

 

Tak ada yang bisa membendung laju pasukannya, hingga Koba, Pangkalpinang, dan Semabung pun “tertelan” dalam cengkeraman kekuasaan Panglima Raman. Berbulan-bulan lamanya, Pangkalpinang “tercekik” dalam belenggu penjajahan.

 

Namun, di tengah kegelapan, munculah seberkas cahaya. Abdullah Djalil, seorang Arab dengan nyali singa, bangkit bak “pahlawan dari negeri dongeng”. Dengan gagah berani, ia “mengusir” Panglima Raman, mengembalikan Pangkalpinang ke pangkuan Kesultanan Palembang Darussalam. Sebuah kemenangan manis yang membuat nama Abdullah Djalil “terukir” abadi dalam lembaran sejarah Bangka.

 

Tak heran jika nama Kampung Dul yang unik ini, di sisi selatan Pangkalpinang, sejatinya adalah sebuah “monumen hidup” untuk mengenang sang pahlawan. Kampung ini, yang konon merupakan tempat tinggal Abdullah Djalil, bukan hanya sekadar permukiman, melainkan “saksi bisu” keberaniannya mengusir bajak laut. Lokasinya yang strategis, terhubung dengan jalan darat ke Kampung Betoer dan Semabung, serta diapit oleh Gunung Dua Ayam, Kampung Air Mesu, Sungai Mesu, dan Sungai Pedindang, semakin menegaskan posisinya sebagai “jantung” perlawanan.

 

Berdasarkan peta topografi Belanda karya L. Ullman tahun 1856, Kampung Dul digambarkan sebagai daerah yang kaya akan “denyut nadi” kehidupan. Di sisi selatan, menjulang Bukit Pau dan Bukit Bungkoean bagaikan “penjaga setia”, sementara di sisi timur, “mengalir” jernih Air Kerasa. Sebuah gambaran yang semakin memperkuat posisi Kampung Dul sebagai wilayah yang tak hanya bersejarah, tetapi juga kaya akan potensi geografis.

 

Kisah Kampung Dul dan Abdullah Djalil adalah “pengingat” bagi kita semua, bahwa sejarah bukanlah sekadar deretan tanggal dan nama, melainkan “roh” yang terus hidup, menginspirasi kita untuk meneladani keberanian dan kegigihan para pahlawan. Sebuah “warisan” yang harus terus kita jaga dan lestarikan, agar generasi mendatang pun dapat “menyelami” kedalaman sejarah dan memahami “akar” identitas mereka. (MJ001)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.